Tekanan Global Meningkat, Rupiah Tetap Terkendali
Jakarta – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi pergerakan nilai tukar rupiah yang belakangan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh dinamika global, sementara fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan terjaga.
Purbaya menegaskan bahwa nilai tukar rupiah pada dasarnya akan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.
“Rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya,” kata Purbaya.
Ia meyakini bahwa seiring membaiknya persepsi investor dan meningkatnya kepercayaan pasar, rupiah akan kembali menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Optimisme tersebut, lanjut Purbaya, ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai semakin solid. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ke depan diyakini akan mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.
Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah menembus level tertinggi sepanjang sejarah.
“Kalau indeks naik ke situ pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Nggak mungkin termasuk sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu,” jelasnya.
Purbaya menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan akan diprediksi akan kembali menguat.
“Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, pemerintah tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi nasional. Pada 2026, Purbaya menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni mencapai 6%.
Sejumlah kebijakan pendukung telah disiapkan, mulai dari pelonggaran likuiditas, perbaikan iklim investasi, hingga penguatan kolaborasi antara kebijakan fiskal dan moneter.
“Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena pondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat Semakin cepat, semakin cepat.” Ujar Menkeu.
Sementara itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Dalam pertemuan di Istana Negara, Rabu (21/1/2026), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengundang Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk membahas fluktuasi nilai tukar rupiah dan perkembangan ekonomi nasional.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah anggota DPR sebagai bagian dari konsolidasi antarlembaga.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta tingginya imbal hasil US Treasury.
Namun demikian, dengan fundamental ekonomi yang kuat, koordinasi kebijakan yang erat, serta kepercayaan investor yang terus terjaga, pemerintah optimistis rupiah tetap berada dalam kondisi terkendali di tengah tekanan global yang meningkat.
[w.R]
Post Comment