Ekspor Tumbuh dan Surplus Terjaga, Pemerintah Optimistis Ekonomi Nasional Kian Kuat
Jakarta – Pemerintah mengapresiasi kinerja ekspor Indonesia yang menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekspor dan surplus neraca perdagangan dinilai mencerminkan ketahanan ekonomi nasional sekaligus memperkuat optimisme terhadap prospek pertumbuhan, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI), Aditya Laksmana, mengatakan berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada Agustus 2026 tumbuh 6,72 persen menjadi US$26 miliar. Secara kumulatif, ekspor Januari–Agustus 2026 mencapai US$163 miliar dengan surplus neraca perdagangan sebesar US$7,25 miliar.
“Pertumbuhan ekspor dan surplus perdagangan ini patut diapresiasi karena menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat stabilitas ekonomi dan menjaga kepercayaan terhadap prospek perekonomian nasional,” ujar Aditya.
Menurutnya, tren positif perdagangan turut didukung aktivitas sektor manufaktur. Peningkatan impor bahan baku sebesar 22 persen dan barang modal sebesar 10 persen mengindikasikan kegiatan produksi dan investasi industri tetap berjalan. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 meningkat menjadi 52,4 dari 49 pada Agustus 2026, yang menandakan ekspansi sektor manufaktur.
“Penguatan ekspor perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas industri dalam negeri. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka perdagangan, tetapi juga dapat mendorong ekspansi usaha dan membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat,” katanya.
Aditya menambahkan, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Pengembangan industri pengolahan diharapkan memperkuat daya saing produk Indonesia sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi yang diperoleh di dalam negeri.
Ia juga menilai kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan penguatan pengawasan ekspor komoditas strategis berperan penting dalam mengoptimalkan penerimaan nasional serta mendukung stabilitas rupiah.
Di sisi lain, investasi Indonesia pada Januari–September 2026 mencapai Rp1.500 triliun atau tumbuh 7 persen secara tahunan, dengan estimasi penyerapan 2,1 juta tenaga kerja.
“Capaian ekspor dan investasi menjadi alasan untuk terus optimistis. Konsistensi kebijakan, penguatan hilirisasi, dan peningkatan daya saing industri perlu dijaga agar pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” tutup Aditya.



Post Comment