×

KKB OPM Terpecah, Beda Pandangan Petinggi Soal Penembakan di Festival Lembah Baliem

WAMENA – Insiden penembakan yang terjadi di sekitar lokasi Festival Budaya Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, memunculkan perbedaan pandangan di kalangan petinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Di satu sisi, TPNPB mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun di sisi lain, Ketua OPM Jeffrey P. Bomanak justru mengecam tindakan yang menimbulkan korban warga sipil itu.

Penembakan terjadi di wilayah Walesi pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 12.50 WIT, saat Festival Budaya Lembah Baliem sedang berlangsung. Lokasi kejadian berada sekitar 500 meter dari pintu masuk area festival yang saat itu dipadati pengunjung dari berbagai daerah.

Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh TPNPB Kodap III Ndugama Derakma. Ia mengakui kelompoknya bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di kawasan Walesi.

“Kami Tentara Pembebasan Nasional atau Organisasi Papua Merdeka Kodap III Ndugama Derakma menyampaikan bahwa penyerangan itu kami yang lakukan,” ujar Sebby dalam keterangannya.

Menurut Sebby, pihaknya mengklaim operasi tersebut ditujukan kepada aparat keamanan yang berada di wilayah tersebut. Namun ia mengakui adanya korban warga sipil akibat baku tembak yang terjadi.

“Penyerangan terhadap aparat militer Indonesia dan baku tembak di Kampung Walesi hingga mengakibatkan terjadinya jatuh korban jiwa terhadap warga sipil itu kami siap bertanggung jawab penuh,” katanya.

Meski demikian, Sebby menyebut pihaknya belum dapat memastikan kondisi seluruh korban. Ia juga kembali menyatakan bahwa wilayah Wamena dianggap sebagai daerah operasi karena adanya penempatan sejumlah satuan militer.

Pernyataan tersebut mendapat respons keras dari Ketua OPM Jeffrey P. Bomanak. Ia menilai penembakan yang terjadi di tengah pelaksanaan festival budaya merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena menyasar ruang sipil yang selama ini menjadi simbol persatuan masyarakat Papua.

“Kejadian ini bukan hanya menimbulkan duka, tetapi juga mencederai ruang budaya yang selama ini menjadi simbol persatuan masyarakat Papua,” ujar Jeffrey.

Menurutnya, peristiwa di Walesi bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ia mengaitkannya dengan sejumlah insiden sebelumnya yang juga menimbulkan korban sipil, termasuk penembakan pilot pesawat perintis Kapten Nicholas F. Gosselin di Bandara Balinggama, Distrik Sobaham, Yahukimo, pada 2 Juli 2026, yang disertai pembakaran pesawat PK-RCY milik PT Associated Mission Aviation (AMA).

Selain itu, Jeffrey juga menyinggung kasus eksekusi terhadap tiga warga sipil di Yahukimo pada Juli 2026 yang dituduh sebagai agen intelijen militer oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo.

“Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa sebagian kelompok bersenjata telah bergerak semakin jauh dari tujuan yang selama ini mereka klaim perjuangkan. Ketika sasaran serangan mengarah kepada warga sipil, tenaga pelayanan masyarakat, maupun fasilitas yang menopang kehidupan masyarakat, maka yang dirugikan pertama kali adalah orang Papua sendiri,” tegasnya.

Jeffrey menilai serangan terhadap warga sipil justru memperlemah legitimasi perjuangan yang selama ini diklaim oleh kelompok bersenjata. Menurut dia, tindakan kekerasan yang berulang hanya akan menambah penderitaan masyarakat Papua dan mengikis dukungan dari berbagai pihak.

“Lebih jauh lagi, tindakan-tindakan semacam ini justru menghancurkan perjuangan dari dalam. Selama bertahun-tahun, isu Papua berusaha memperoleh perhatian dunia internasional melalui narasi hak asasi manusia, keadilan, dan dialog politik. Namun ketika yang terlihat adalah penembakan warga sipil, pembakaran fasilitas publik, dan pembunuhan terhadap tenaga sipil, maka simpati internasional akan semakin berkurang,” ujarnya.

Perbedaan sikap antara petinggi OPM dan TPNPB tersebut dinilai mencerminkan semakin menguatnya perbedaan pandangan di internal kelompok separatis mengenai penggunaan kekerasan terhadap warga sipil. Di tengah meningkatnya kecaman masyarakat terhadap berbagai aksi bersenjata dalam beberapa bulan terakhir, insiden Festival Lembah Baliem kembali memunculkan pertanyaan mengenai arah dan legitimasi perjuangan yang selama ini mereka gaungkan.

Post Comment