Petinggi OPM dan Mahasiswa Kutuk Penyerangan TPNPB di Festival Lembah Baliem
Jayapura – Penembakan terhadap warga sipil di kawasan Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, saat pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem menuai kecaman dari berbagai kalangan. Tidak hanya masyarakat sipil, kecaman juga datang dari tokoh Papua, termasuk Ketua OPM Jeffrey P. Bomanak dan Ketua BEM Universitas Cenderawasih, Yuluku Wasiangge, yang menilai tindakan tersebut semakin menjauh dari kepentingan rakyat Papua.
Insiden penembakan terjadi sekitar pukul 12.50 WIT, Sabtu (8/8/2026), di wilayah yang berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk Festival Lembah Baliem. Aksi yang diduga dilakukan oleh kelompok TPNPB Kodap III Ndugama Derakma itu terjadi ketika ribuan warga dan wisatawan tengah mengikuti agenda budaya tahunan yang menjadi salah satu ikon Papua Pegunungan.
Ketua OPM Jeffrey P. Bomanak menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, serangan yang terjadi di sekitar lokasi festival bukan hanya menimbulkan korban dan ketakutan, tetapi juga mencederai ruang budaya yang selama ini menjadi simbol persatuan masyarakat Papua.
“*Kejadian ini bukan hanya menimbulkan duka, tetapi juga mencederai ruang budaya yang selama ini menjadi simbol persatuan masyarakat Papua*,” ujarnya.
Bomanak menegaskan bahwa penyerangan di Festival Lembah Baliem bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menyoroti sejumlah aksi kekerasan terhadap warga sipil yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, termasuk penembakan terhadap pilot warga negara Amerika Serikat, Kapten Nicholas F. Gosselin, di Bandara Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026. Dalam insiden itu, pesawat perintis milik PT Associated Mission Aviation (AMA) dengan registrasi PK-RCY juga dibakar.
Selain itu, ia juga menyinggung kasus eksekusi terhadap tiga warga sipil di Yahukimo pada Juli 2026 yang dituduh sebagai agen intelijen militer oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
Menurut Bomanak, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan adanya pergeseran arah perjuangan yang selama ini diklaim oleh kelompok bersenjata.
“*Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa sebagian kelompok bersenjata telah bergerak semakin jauh dari tujuan yang selama ini mereka klaim perjuangkan. Ketika sasaran serangan mengarah kepada warga sipil, tenaga pelayanan masyarakat, maupun fasilitas yang menopang kehidupan masyarakat, maka yang dirugikan pertama kali adalah orang Papua sendiri*,” katanya.
Ia menambahkan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga sipil justru merusak legitimasi perjuangan Papua di mata dunia internasional.
“*Lebih jauh lagi, tindakan-tindakan semacam ini justru menghancurkan perjuangan dari dalam. Selama bertahun-tahun, isu Papua berusaha memperoleh perhatian dunia internasional melalui narasi hak asasi manusia, keadilan, dan dialog politik. Namun ketika yang terlihat adalah penembakan warga sipil, pembakaran fasilitas publik, dan pembunuhan terhadap tenaga sipil, maka simpati internasional akan semakin berkurang*,” tegasnya.
Kecaman serupa disampaikan Ketua BEM Universitas Cenderawasih, Yuluku Wasiangge. Ia menilai berbagai aksi yang dilakukan TPNPB belakangan ini menunjukkan bahwa perjuangan yang mereka gaungkan telah kehilangan arah.
“*Saya memandang bahwa berbagai tindakan yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa perjuangan yang mereka klaim perjuangkan telah kehilangan arah dan semakin jauh dari kepentingan rakyat*,” ujarnya.
Menurut Yuluku, Festival Lembah Baliem merupakan ruang budaya yang seharusnya menjadi wadah persatuan dan promosi identitas masyarakat Papua. Karena itu, kekerasan yang terjadi di sekitar lokasi festival dinilai sangat mencederai nilai-nilai kebudayaan yang ingin ditampilkan kepada dunia.
“*Ketika kekerasan terjadi di sekitar lokasi festival, pesan yang muncul bukanlah tentang perjuangan, melainkan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi*,” katanya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa Papua berdiri bersama masyarakat sipil yang menjadi korban konflik dan menolak segala bentuk kekerasan.
“*Sebagai mahasiswa Papua, kami berdiri bersama masyarakat sipil yang menjadi korban. Kami menolak segala bentuk kekerasan yang menghilangkan nyawa, merusak fasilitas publik, dan menghambat pembangunan. Kami menuntut TPNPB untuk menghentikan aksi-aksi yang meresahkan masyarakat dan meninggalkan lingkungan warga sipil*,” pungkasnya.
Berbagai kalangan berharap insiden di Festival Lembah Baliem menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pihak agar masyarakat Papua dapat menjalani aktivitas sosial, budaya, dan pembangunan secara aman tanpa dibayangi ancaman kekerasan bersenjata.



Post Comment